Berharap rilis Jumbo bisa menjadi Toy Story moment animasi Indonesia

Semua di Visinema lagi deg-degan nunggu rilis film animasi Jumbo tanggal 1 April nanti. Wajar sih—film ini butuh waktu lima tahun untuk digarap, dengan budget yang sangat besar dan lebih dari 400 orang yang terlibat demi menciptakan animasi yang mendekati kualitas Pixar. Sebagai perbandingan, Toy Story, film petama Pixar, butuh tujuh tahun untuk rampung.
Tapi, sebagus apa pun animasinya, yang paling penting tetaplah cerita yang menyentuh hati penonton.
Makanya saya lega banget setelah nonton bareng di acara Gala Family’s Day Out Jumbo minggu lalu. Siang itu, CGV GI dipenuhi bocil-bocil dan orang tua yang sibuk ngejar anaknya. Setelah film selesai dan lampu dinyalakan, saya melihat berbagai ekspresi muncul di wajah penonton.
Ada bapak ibu yang diam-diam mengusap air mata karena film ini membangkitkan kenangan akan masa kecil mereka. Atau karena tiba-tiba membayangkan apa yang terjadi jika anaknya harus tumbuh tanpa orang tua.
Ada anak-anak SD, termasuk anak-anak saya, yang loncat-loncat kegirangan karena merasa ikut dalam petualangan melawan tokoh antagonis dewasa. Sepanjang jalan pulang, mereka banyak tanya soal siapa bestie-nya Don atau Meri.
Dan tentu, ada rasa lega dari semua cast, crew, karyawan, komisaris, investor, dan semua yang sudah lima tahun mencurahkan waktu dan tenaga buat mewujudkan Jumbo. Akhirnya film ini sampai juga ke layar lebar dan dapat sambutan hangat.
Toy Story—film animasi panjang pertama Pixar—nggak cuma sukses secara teknis, tapi juga mengubah cara dunia melihat film animasi: bahwa film kartun bukan cuma buat anak-anak. Harapannya, Jumbo bisa jadi momen seperti itu untuk Indonesia. Supaya film animasi kita bisa bersaing di dalam dan luar negeri.
Buat yang lagi cari tontonan seru bareng keluarga saat lebaran, tiket Jumbo sudah bisa dibeli lewat Advance Ticket Sales, ya. Semoga suka.
