Review Buku: Panduan Lima Jari – Ngobrol Bareng Teman yang Lagi Merenung

Membaca Panduan Lima Jari rasanya seperti duduk ngobrol santai dengan seorang teman yang lagi filosofis—bukan membahas hal-hal besar, tapi justru merenungkan yang kecil-kecil dalam hidup.
Pertama kali ketemu Edward, kami ngobrol cukup panjang di sebuah kedai kopi kecil di Glodok. Topiknya beragam: keluarga, pekerjaan, suka duka hidup. Dan perasaan yang muncul setelah saya selesai membaca buku ini... mirip dengan pagi itu.
Makanya menurut saya, buku ini cocok buat dibaca sambil ngemil di kafe, atau buat teman pelarian sebentar dari deadline yang menumpuk. Cerita-ceritanya pendek, ringan, tapi seringkali bikin kita berhenti sejenak dan mikir ulang cara kita memandang hidup.
Melalui kumpulan cerita ini, Edward membagikan potongan cara pandangnya terhadap dunia—dan sering kali, terhadap dirinya sendiri. Salah satu hal yang saya tangkap, Edward ini orang yang sangat tidak suka dengan keluhan. Beberapa kutipan di bukunya cukup “menampar,” seperti:
“Setiap keluhan adalah kebodohan. Karena keadaan yang sudah sulit bukannya menjadi lebih ringan, tapi malah jadi semakin berat.”
“Tuh, ’kan saya sudah nggak pernah pakai lagi, sejak saya sadar mereka merenggut kehormatan dari orang-orang yang berjuang.”
Selain itu, ada juga pemikiran soal hubungan—baik dengan pasangan maupun sahabat. Sederhana, tapi mengena.
“Rukun itu bukan berarti tidak pernah berantem, tapi rukun itu bisa lihat bahwa berantem itu biasa.”
“Pergi dengan siapa lebih penting daripada pergi ke mana.”
Dan yang mungkin akan terasa banget buat teman-teman yang lagi di tengah-tengah perjalanan karir: pertanyaan yang pernah Edward lontarkan ke saya.
“Di, lu udah selesai belum dengan diri lu sendiri?”
Karena memang, dari lima jari yang jadi struktur utama dalam buku ini:
- Jempol: memberi yang terbaik
- Telunjuk: terus bertumbuh
- Jari tengah: bersyukur atas versi diri kita yang unik
- Jari manis: membangun hubungan yang bermakna
- Kelingking: selesai dengan diri sendiri—sebelum mulai menanam benih dalam hidup orang lain
Bagian terakhir ini yang menurut saya paling dalam. Karena kadang kita terlalu cepat ingin memberi nasihat, membenahi, atau membantu orang lain—padahal kita sendiri belum selesai membereskan isi kepala kita sendiri.
Pada akhirnya, buku ini terasa seperti catatan dari seseorang yang sudah cukup berdamai dengan dirinya, dan sekarang ingin berbagi apa yang ia pelajari, buat siapa pun yang sedang dalam perjalanan yang sama.
Saya sempat senyum sendiri waktu baca salah satu bab di mana Edward mengaku, sebenarnya yang dia lakukan hanyalah bercermin dan menasihati diri sendiri. Buku ini hanyalah hasil dari percakapan itu.
Buat yang mau ketemu langsung dengan Edward, ada acaranya tanggal 12 April di Alam Sutera. Info lengkapnya bisa di-swipe. Kalau sempat, datang aja—mungkin kamu bisa ikut ngobrol sambil merenung juga.
